Sabtu, 01 Agustus 2020

Prasetyo Sunaryo, Tokoh Pemikir dan Ketua DPP LDII Meninggal Dunia


Ir H Prasetyo Sunaryo, MT, Ketua DPP LDII yang sekaligus koordinator think tank DPP LDII meninggal dunia. Prasetyo Sunaryo salah satu tokoh LDII yang dekat dengan wartawan, meninggal dunia pada Jumat, 31 Juli 2020, pukul 19.40. Prasetyo Sunaryo meninggal dunia dalam usia 72 tahun di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Jakarta Pusat.

Prasetyo Sunaryo merupakan tokoh di balik langkah-langkah strategis DPP LDII. Kepiawaiannya dalam berorganisasi ia dapati sejak SMAN 3 Malang dan berlanjut saat kuliah. Bahkan menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB pada 1974-1975. Prasetyo Sunaryo saat itu, harus mengkonsolidasikan para aktivis dan mahasiswa ITB usai peristiwa Malari.

Selain itu Prasetyo menduduki jabatan Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), lembaga yang berisi tokoh intelektual dan pemikir Islam, yang didirikan oleh Presiden RI BJ Habibie yang saat itu menjabat Menteri Riset dan Teknologi pada 1990. Prasetyo Sunaryo juga pernah menduduki jabatan anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Utusan Golongan pada akhir 1990-an.

Menjelang masa pensiun, Prasetyo Sunaryo dan koleganya turut dalam pendirian Lembaga Bantuan Teknologi (LBT) dan kelompok think tank Pradigma Institut. LBT dikenali sebagai lembaga yang bekerja sama dengan berbagai pihak dalam isu-isu strategis berkaitan dengan energi dan pangan. Sementara Paradigma Institut mengkaji isu-isu politik global dan nasional. Prasetyo Sunaryo juga aktif dalam Dewan Riset Nasional (DRN).

Prasetyo Sunaryo merupakan tokoh dibalik kerja sama LDII dengan lembaga-lembaga di Jepang dan kedutaan besar negeri tetangga. Ia pencetus ‘Ayo Hormati Guru’ bersama almarhum Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam. Ia pula yang mempertemukan UMKM se-Asia Tenggara dalam acara konferensi UMKM ASEAN pada 2015. Jerih payahnya itu berhasil mempertemukan UMKM di negara-negara ASEAN untuk saling bekerja sama.

Ia selalu mengingatkan, UMKM di Asia Tenggara harus saling bekerja sama bukan bersaing, sehingga saling menguatkan dalam menghadapi produk-produk global, “Saling menyuplai bahan sehingga yang tercipta iklim bisnis kerja sama bukan kompetisi, agar makin kompetitif di pasar global. Kolaborasi menjadi kunci,” ujarnya. Prasetyo Sunaryo juga menjadi anggota Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat (KPEU) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Pada Musyawarah Nasional (Munas) DPP LDII pada 2005, Prasetyo Sunaryo mendorong masuknya anak-anak muda di bawah usia 30 tahun dari berbagai profesi dan disiplin ilmu. Hal tersebut, didasari pemikirannya, agar gerak organisasi semakin lincah dalam era yang semakin digital. Sekaligus membangun sistem pengkaderan, agar para generasi muda LDII bisa belajar banyak dari para senior mereka, dalam menggerakkan organisasi sekaligus menghadapi dinamika perubahan zaman. Ia juga mendorong lahirnya Majalah Nuansa Persada, LDII News Network (LINES), LDII TV, dan Satuan Komunitas Pramuka Sekawan Persada Nusantara.

Dalam lima tahun terakhir, Prasetyo Sunaryo mendorong DPP LDII untuk fokus kepada delapan bidang pengabdian, sebagai respon LDII terhadap dinamika global, yakni: wawasan kebangsaan, keagamaan, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan dan herbal, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, energi terbarukan, dan teknologi digital.

Delapan klaster tersebut didorong DPP LDII untuk dilaksanakan hingga tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) LDII, sebagai respon LDII terhadap kondisi global yang mengalami berbagai krisis, di antaranya pangan, energi dan air. Prasetyo Sunaryo juga menjadi tokoh yang perhatian terhadap bidang kemandirian generasi muda, yang merupakan salah satu ijtima para ulama LDII, untuk mewujudkan generasi Tri Sukses (alim-faqih, berakhlak mulia, dan mandiri).

Bahkan Prasetyo Sunaryo mendorong kemandirian energi, pangan, dan air dengan terus mendorong pemerintah dan DPR, memandang energi sebagai kebutuhan pokok, bersama sandang, pangan, dan papan. Menjelang akhir hayatnya, Prasetyo Sunaryo aktif mendorong desain ketahanan pangan, baik di tingkat keluarga maupun komunitas – khususnya di lingkungan warga LDII.

Di sela-sela perawatannya, ia terus berkoordinasi dengan para pengurus DPP LDII, guna mendorong ketahanan pangan untuk dijadikan prioritas utama LDII pada masa pandemi. Wafatnya Prasetyo Sunaryo merupakan kehilangan besar bagi LDII, salah satu pemikir paling aktif itu meninggalkan banyak karya, yang harus diteruskan oleh para generasi muda LDII.

Makna Qurban Bagi LDII : Berbagi di Tengah Pandemi, Wujud Kepedulian Terhadap Sesama


Warga LDII di seluruh Indonesia merayakan Idul Adha atau Hari Raya Kurban pada 31 Juli 2020. Untuk kurban tahun ini, menurut data yang dihimpun DPP LDII, di seluruh Indonesia atau 34 provinsi jumlah kurban yakni 20.848 sapi, 18.556 kambing, dan 20 kerbau.

“Angka ini naik 30 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujar Wakil Sekretaris Umum DPP LDII, Ibnu Anwar Chairuddin. Menurut Ibnu, DPP LDII hanya menghimpun data jumlah kurban, bukan menghitung nilai ekonomisnya.

Meskipun DPP LDII tak menyebut angka, dari reportase di lapangan, bila harga rata-rata seekor sapi Rp20 juta, kambing Rp2,5 juta, dan kerbau Rp30juta, nilai kurban warga LDII di seluruh Indonesia bisa mencapai Rp464 miliar.

Kenaikan ini bagi DPP LDII juga cukup menggembirakan, pasalnya gairah melaksanakan ibadah kurban masih sangat tinggi, ketika wabah virus corona mengakibatkan perlambatan gerak ekonomi secara nasional. Lantas, bagaimana warga mampu meningkatkan nilai kurban tersebut.

“Pertama, warga LDII sangat termotivasi dengan nilai ibadah dari kurban. Setiap pengajian, para ulama dan juru dakwah mengingatkan sejarah kurban, pahala, dan manfaatnya,” ujar Ibnu. Soal ibadah, kurban merupakan perintah Allah dalam Surat Al-Kautsar. Dari sisi sejarah, kurban merupakan keikhalasan, ketaatan, dan tawakal yang tinggi dari Nabi Ibrahim ketika diperintah menyembelih putranya, Nabi Ismail. Dan dari sisi pahala, seluruh bulu pada hewan kurban – baik bulu halus dan kasar – dihitung satu pahala.

“Motivasi dari para ulama itulah yang membuat warga LDII berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujar Ibnu Anwar. Frekuensi pengajian di lingkungan LDII di tingkat Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Anak Cabang (PAC), yang rata-rata tiga kali seminggu dimanfaatkan untuk menabung kurban.

Sejak kurban tahun lalu dilaksanakanan, saat pengajian dibuka kembali, warga LDII menabung. Mereka menuliskannya pada buku tabungan kurban, berserta nilai kurban berupa sapi, kambing, ataupun kerbau, “Otomatis melihat buku tabungan kurban tersebut mereka termotivasi dan sebulan atau dua bulan menjelang kurban nasehat-nasehat dari para ulama mengenai kurban digaungkan kembali,” papar Ibnu.

Inilah yang membuat warga LDII selalu berkurban dalam jumlah yang besar. Sementara itu, Ruly Bernaputra, Ketua Departemen Pengabdian Masyarakat DPP LDII menyatakan, tema kurban kali ini “Berbagi di Tengah Pandemi, Wujud Kepedulian Terhadap Sesama”.

“Tema ini aktual dengan kondisi bangsa saat ini, di mana wabah merusak perekonomian, menciptakan krisis ekonomi terutama di perkotaan. Dalam kondisi ini, ikatan berbangsa dan bernegara harus ditumbuhkan dengan semangat bergotong royong dan berbagi,” ujar Ruly Bernaputra.

Ruly mengatakan teknik pembagian hewan kurban di Jakarta dan di daerah-daerah zona merah wabah di Indonesia, dilakukan dengan cara dikirim ke RT dan RW. Dari para pengurus RT dan RW didistribusikan ke rumah warga agar tak terjadi penumpukan warga.

Dari sisi pelaksanaan kurban, sebulan sebelum kurban DPW dan DPD LDII bekerja sama dengan Forum Komunikasi Kesehatan Indonesia (FKKI) melakukan webinar, mengenai tata cara penyebelihan hewan kurban pada masa pandemi, “Salah satunya mereka yang kondisi kesehatannya kurang fit dilarang menangani daging kurban,” imbuh Ruly.

Para warga yang memotong hewan kurban, harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Dan hanya mereka yang bertugas, yang diperbolehkan berada di lingkungan masjid atau tempat penyembelihan, “Dengan demikian pelaksanaan kurban tahun ini bisa berjalan aman, tertib, dan tetap mematuhi protokol kesehatan,” pungkas Ruly.

Selasa, 14 Juli 2020

Ketua Umum DPP LDII Prof. Dr. Ir. KH Abdullah Syam Meninggal Dunia

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Prof. Dr. Ir. KH Abdullah Syam saat bersalaman dengan Presiden Joko Widodo tahun 2018.

Jakarta (14/7). Ketua Umum DPP LDII Prof. Dr. Ir. KH Abdullah Syam atau Abdullah Syarief Mukhtar lahir di Bogor, 22 Pebruari 1948, meninggal dunia pada usia 72 tahun, di Rumah Sakit Veteran dr Suyoto. Menurut dr Dani Pramudya, SpEM, yang mendampingi Abdullah Syam hingga saat meninggal dunia, mengatakan, Ketua Umum DPP LDII itu menderita komplikasi diabetes, hipertensi, dan jantung.

“Beliau meninggal dunia pada pukul 03.30 pada Selasa, 14 Juli 2020,” ujar Dani. Sebelumnya Abdullah Syam telah dirawat di rumah sakit selama lima hari. Karena kondisinya telah stabil, dokter yang merawat mengizinkan pulang. Namun sesampai di rumah kondisinya menurun kembali, “Beliau kemudian dirawat di rumah sakit hingga meninggal dunia,” ujar Dani.

Abdullah Syam dilantik menjadi Ketua Umum DPP LDII sejak 1998-2005, 2005-2011, 2011-2016, dan 2016-2021. Dalam memimpin DPP LDII selama empat periode Abdullah Syam membawa perubahan dalam gerak organisasi, yang lebih inklusif dan lincah dalam membaca lingkungan strategis.

“Pada saat reformasi, Pak Abdullah Syam berhasil memanfaatkan momentum tersebut dengan menerbitkan Majalah Nuansa dengan izin resmi memakai SIUPP,” ujar Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo.

Abdullah Syam selain menjadi birokrat dan peneliti di Kementerian Kehutanan merupakan sosok yang aktif. Dia tak segan-segan menyambangi warga LDII di wilayah Pulau Sebatik, perbatasan Indonesia-Malaysia. Selain itu, ia juga kerap menyambangi para pelajar atau warga LDII yang bekerja di luar negeri, untuk melihat secara langsung kegiatan pembinaan generasi muda.

Pada 2007, Abdullah Syam mempelopori gerakan “Paradigma Baru”, dan mengarahkan organisasi dan warga LDII lebih dekat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), “Paradigma baru itu, membuat hubungan LDII dengan MUI menjadi sangat dekat. Lima warga LDII menjadi pengurus MUI Pusat dan Pak Abdullah Syam juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan MUI,” ujar Ketua DPP LDII, Chriswanto Santoso. Pada 2012 lalu, Abdullah Syam bersama ormas Islam lainnya ditunjuk sebagai anggota Amirul Haj.

Kedekatan LDII dan MUI terus berlanjut. LDII berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan MUI, seperti unjuk rasa menggolkan UU Antipornografi dan bersama-sama MUI menolak RUU Haluan Ideologi Pancasila.

Menurut Sekretaris Umum DPP LDII Dody T Wijaya, pada 2016, Abdullah Syam mengajak seluruh warga LDII menghormati para guru. Program itu diwujudkan dalam “Gerakan Ayo Menghormati Guru”, “Gerakan tersebut mengajak warga LDII dan seluruh bangsa Indonesia untuk menghormati para guru, baik guru dalam sekolah formal maupun nonformal seperti kyai, mubaligh-mubalighot, hingga orangtua,” ujar Dody.

Gerakan ini selalu dikenang, karena mengingatkan kembali fungsi sentral para guru dalam menentukan arah berbangsa dan bernegara. 

Kini, Abdullah Syam telah berpulang ke sisi Allah. Semoga jasa-jasanya menjadi amal jariyah baginya, dan bermanfaat bagi LDII serta umat Islam pada umumnya.

DPP LDII menyampaikan apresiasi kepada semua pihak, termasuk tenaga medis RS Veteran Suyoto yang sudah berupaya maksimal dalam menangani almarhum, sejak tiba di RS hingga akhir hayatnya.

Minggu, 09 Februari 2020

LDII Sampang Menghadiri Acara Kirab Kebangsaan Merah Putih


(Sabtu, 8/2/2020) - Ketua bersama pengurus LDII Sampang menghadiri acara apel dan Kirab Kebangsaan Merah Putih yang digelar di Kota Sampang bertemakan “Tanamkan Rasa Cinta Kepada Bangsa dan Perangi Hoax dengan Kegiatan Sangsaka Merah Putih”

Ribuan orang mengikuti acara kirab dengan membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 500 meter dan lebar 12 meter. Acara berlangsung mulai pukul 15.30-17.30 WIB dan acara dilanjutkan tabligh akbar dimalam hari. Acara ini berjalan dengan aman, selamat, lancar dan barokah serta doa bersama.  Rute kirab dimulai dari TMP Jalan Kusuma Bangsa, berakhir di Lapangan Wijaya Kusuma Sampang.

Hadir pada acara tersebut Bupati dan Wakil Bupati Sampang, ketua DPRD Kabupaten Sampang, Forkopimda Kabupaten Sampang, ketua MUI Kabupaten Sampang, Ulama, tokoh masyarakat, dan para undangan lainnnya.

Sartono selaku ketua DPD LDII yang berkesempatan hadir dalam acara tersebut mengungkapkan, “acara kirab ini dapat meningkatkan rasa cinta pada bangsa dan memperkuat ikatan ukhuwah islamiyah” ungkap Sartono. Beliau berharap agar masyarakat di lingkungan Kabupaten Sampang bisa kompak, solid dan meningkatkan sifat gotong royong dalam semangat persatuan Indonesia. (Ika)

Sabtu, 23 November 2019

Silbilnas Sako SPN 2019 : Mencetak Pramuka yang Mandiri, Berkecakapan Hidup dan Berwirausaha


Bantul (21/11). Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kakak Laksamada Muda (Purn) Kingkin Suroso membuka kemah Silaturrahim Pembina Nasional (Silbinas) Sako SPN 2019. Ia mengapresiasi kemajuan Sako SPN yang berdiri sejak 2013.

Silbinas Sako SPN 2019 dilaksanakan selama tiga hari pada tanggal 21-23 November 2019 di Bumi Perkemahan (Buper) Dewa Ruci, Dusun Wonoroto, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Dalam perhelatan itu Sultan Hamengku Buwono X diwakili staf ahli Gubernur Bidang Sosial dan Kemasyarakatan Tri Mulyono, Kwarda Daerah Istimewa Yogyakarta Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Ketua Umum DPP LDII Abdullah Syam, Bupati Bantul Suharsono yang juga Mabicab Gerakan Pramuka Bantul, Mabisakonas SPN Prasetyo Sunaryo dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Kedatangan para tokoh disambut oleh pagar betis dan pertunjukkan pencak silat dari Sako SPN. Saat membuka acara, Kingkin Suroso cukup antusias dan memberikan respon positif dalam perhelatan Silbilnas Sako SPN 2019. Pramuka itu menurutnya, harus dikembangkan kembali dengan mendidik kaum muda yang berkarakter. 

Tujuannya, agar kaum muda dapat lebih baik menyongsong masa depan dan diharapkan peranan tersebut dapat ditingkatkan dan menjadi garda depan dalam menghadapi teknologi. Dalam hal ini para Pembina dituntut peran dan dedikasinya agar lahir kader-kader muda yang dapat menghasilkan peserta didik mandiri, serta siap menghadapi teknologi 4.0. 

“Tetaplah menjadi Pramuka yang sebenarnya. Saya yakin Sako SPN ke depan akan lebih maju karena sejalan dengan program revitalisasi satuan karya yang sudah ada pada Sako,” ujarnya.

Ia tidak ingin anak muda yang mengikuti pramuka, setelah umur 25 tahun menjadi Pramuka yang tidak jelas, akan tetapi menjadi Pramuka yang mandiri, berkecakapan hidup, dan berwirausaha.

“Bukan Pramuka yang tidak jelas, tapi Pramuka yang menjadi harapan bangsa. Sambutan kakak mabida tadi, memberikan gambaran tentang mimpi ke depan. Dan saya yakin Sako SPN mampu mencapai tujuan itu,” ujarnya.

Langkah nyata yang akan dilakukannya, pada tahun 2022 ia ingin ada perkemahan antar satuan komunitas. Tiap-tiap satuan komunitas akan bergabung menjadi satu dalam sentra perkemahan modern. Sebuah perkemahan di mana pramuka bermasyarakat. 

Di sisi lain, Tri Mulyono pun menuturkan dalam pembukaan. Bagi kakak-kakak pembina pramuka Sako SPN, saat ini dibutuhkan literasi data untuk meningkatkan kemampuan mengolah data dan informasi, juga literasi manusia yang berupa softskill atau pengembangan individu yang dianggap mampu beradaptasi dengan industri 4.0 tersebut.

GKR Mangkubumi juga mengatakan hal yang serupa saat simbolisasi pelepasan burung merpati bersama tokoh-tokoh lainnya. Ia mengapresiasi Silbilnas Sako SPN 2019 didepan 1.014 kakak-kakak pembina yang hadir. 

Menurutnya, saat ini Gerakan Pramuka memiliki PR untuk dihadapi. Masih banyak pekerjaan rumah untuk menciptakan pembina yang ditugaskan untuk adik-adik yang masih sekolah. Mereka juga harus menciptakan generasi generasi muda yang melek era 4.0 yang cinta Indonesia dan memiliki karakter kuat untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik. 

“Para Pembina Sako SPN yang luar biasa, pendampingan buat generasi muda sangat penting, pembinaan karakter diri dan pendalaman dasa darma untuk majunya Indonesia” ujarnya.


Sebelum membuka acara, tokoh-tokoh yang hadir secara simbolis melakukan penanaman pohon. Ketua Pinsako SPN Edwin Sumiroza menuturkan, Sebelumnya sudah ada 254 pohon yang ditanam di bumi perkemahan yang berada di bibir pantai dan menghadap langsung ke Samudera Hindia ini. 

Silbinas diikuti peserta yang terdiri dari 8 Sako Provinsi yang telah diresmikan oleh masing masing kwarda, yaitu Sakoda Lampung, Sakoda Jawa Barat, Sakoda DI. Yogyakarta, Sakoda DKI Jakarta, Sakoda Sumatera Selatan, Sakoda Jawa tengah, Sakoda Sulawesi Tengah, dan Sakoda Jawa Timur.

Selain itu beberapa Sakoda yang masih didampingi provinsi untuk merintis juga ikut serta, seperti Provinsi Banten, Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Bengkulu, Provinsi Bangka Belitung, Provinsi Papua, Provinsi Kalimantan Utara, dan Provinsi Jambi.

Senin, 30 September 2019

LDII Sampang Asah Generasi Muda Melalui Kompetisi Anak Sholeh


DPD LDII Kab. Sampang bekerjasama dengan DPD LDII Kab. Pamekasan kembali menggelar kegiatan Kompetisi Anak Sholeh (KOMPAS) yang dilaksanakan di masjid Luhur Ceguk pada tanggal 29 September 2019. Dalam kegiatan KOMPAS kali ini DPD LDII Kab. Sampang turut mengirimkan 14 generasi mudanya untuk berkompetisi dengan para peserta lainnya. Kegiatan KOMPAS ini dihadiri oleh M. Ilyasar S.Ag, M.Pdi selaku Kasi Binmas Islam Kemenag Kab. Pamekasan. Turut pula hadir Sahuri selaku sekretaris Kecamatan Tlanakan.

Kompetisi Anak Sholeh (KOMPAS) ini merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh DPD LDII Kab. Sampang berkolaborasi dengan DPD LDII Kab. Pamekasan, dalam rangka sebagai media evaluasi dan penilaian kegiatan belajar mengajar (KBM) generasi muda LDII yang telah dilaksanakan selama ini. Kegiatan KOMPAS dengan tema "Mewujudkan Generasi Islam yang Bertaqwa dan Berakhlakul Karimah" ini diikuti sebanyak 150 orang generasi muda LDII dari berbagai Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Cabang (PC).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga pukul 16.30 WIB ini memiliki beberapa serangkaian kegiatan yang meliputi, lomba adzan, lomba tartil, lomba hafalan, lomba cerdas cermat, lomba mewarnai dan lomba nasehat. Semua kegiatan tersebut dilaksanakan dibawah pengawasan dan penilaian dari para ulama serta mubaligh/mubalighot yang dimiliki oleh LDII. 


Dalam sambutannya ketua DPD LDII Kab. Pamekasan sekaligus ketua panitia KOMPAS Setyo Budi Winarno mengatakan, dengan diselenggarakannya acara KOMPAS ini LDII mencoba memberikan sebuah wadah kompetisi kepada anak-anak khususnya anak usia PAUD dan TK, untuk kemudian dapat diseleksi kemampuannya dengan tujuan dapat melahirkan pendakwah yang handal. Kompetisi Anak Sholeh ini juga dapat berkontribusi untuk memberikan penguatan pada nilai pemahaman agama, akhlak yang mulia serta kemandirian.

M. Ilyasar juga turut menyampaikan pesan. "acara ini sangat positif sekali dan kami memberikan apresiasi atas partisipasi warga LDII dalam membangun, membimbing dan mendidik masyarakat khususnya di dalam membina anak-anak di indonesia. Kedepannya bisa dikembangkan lagi untuk bisa bersinergi dengan Kementrian Agama dan juga pemerintah daerah" tandasnya.

Dalam kesempatan terpisah Sartono selaku ketua DPD LDII Kab. Sampang mengatakan, bahwa dengan diselenggarakannya kegiatan KOMPAS ini sangat bagus karena bisa mendorong anak-anak atau caberawit menjadi generasi yang pintar, fakih dan faham agama, beraklaqul karimah, serta mandiri juga fastabiqul khoirot dalam mencari pahala, diharapkan juga setelah dewasa menjadi manusia yang profesional riligius bisa berkontribusi kepada orang tua, agama nusa dan bangsa. (Ika/Lines)

Jumat, 13 September 2019

LDII Dorong Digitalisasi Pendidikan Selain Ekonomi


Jakarta (13/9). LDII telah menggelar lokakarya nasional di bidang pendidikan dan ekonomi. Hal tersebut dilakukan, agar warga LDII dapat memanfaatkan revolusi industri 4.0, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pemanfaatan bisnis-bisnis baru, akibat menyatunya komputer, internet, dan teknologi komunikasi.

“Penggunaan teknologi digital bukan sekedar alat yang dipasang lalu dipakai, tapi juga merupakan sinergi antara perangkat keras, dengan struktur dan kultur. Teknologi yang digunakan seorang diri tidak terasa kegunaannya, tapi jika dalam satu komunitas, maka akan sangat berguna,” ujar Ketua Panitia Pengarah (SC) Prasetyo Sunaryo sekaligus Ketua DPP LDII.

Masalah kultur menjadi penting, sebab secanggih apapun teknologi tanpa perubahan kultur atau karakter, hak tersebut mengakibatkan teknologi menjadi tak berfaedah, “Misalnya, ada pesan penting dalam Whatsapp yang masuk, lalu diabaikan karena memiliki budaya menunda,” ujar Prasetyo.

Hal ini diungkapkan oleh Prasetyo Sunaryo, mengawali acara Lokakarya Nasional 2019 yang kembali lagi digelar di Gedung DPP LDII, Jakarta (12/9). Ia berpendapat, dalam ormas yang memiliki struktur seperti LDII, lokakarya ini bermanfaat membahas bagaimana teknologi dapat berguna dalam bidang ekonomi dan pendidikan.

Pada perhelatan acara hari pertama pada Selasa (10/9) lalu lokakarya membahas digital ekonomi yang melibatkan pegiat ekonomi, pengusaha, dan pemerhati bidang keuangan, pemasaran, serta produksi. Pada hari pertama, Duta Besar Singapura Anil Kumar, berbagai mengenai pemanfaatan teknologi di Singapura, lalu di hari ketiga, pada Kamis (12/9), Kepala Pusat Teknologi, Komunikasi, dan Informasi, Gogot Suharwoto sebagai keynote speaker yang membahas ‘Pendidikan di Era Digital’.

Lokakarya nasional hari ketiga, dihadiri oleh para tenaga pendidik, pengajar, perwakilan yayasan pendidikan, kepala sekolah, serta pamong pendidikan. Di depan kurang lebih 200 peserta lokakarya, Ketua Umum LDII, Abdullah Syam memperkenalkan tim ECH (Education Clearing House) yang sebelum lokakarya nasional ini diadakan, telah membuat diskusi terpumpun (FGD) untuk merumuskan output bidang pendidikan. Berupa panduan kurikulum, panduan masalah anak didik, serta kelembagaan pendidikan.

ECH merupakan salah satu usaha LDII, berkontribusi di bidang pendidikan dengan fokus menciptakan sumberdaya yang profesional religius. Selama ini yang dilakukan LDII adalah proses membina dari tingkat usia dini hingga mahasiswa, “Dengan perkembangan era digital, kami berupaya untuk memanfaatkan teknologi informasi guna meningkatkan kualitas pendidikan, yakni dengan pembinaan pendidikan berbasis digital,” ujar Ketua Umum DPP LDII Prof Dr KH Abdullah Syam, M.Sc.

Dalam sambutannya, Gogot Suharwoto juga berpendapat, bahwa pendidikan bisa bertahan dan bersaing kuncinya ada pada guru. “Guru harus bisa memahami, karakteristik anak didik sekarang secara genetik berbeda dengan para orangtua,” ujarnya.


Mengutip World Economic Forum, ia memaparkan industri 4.0 memiliki risiko melahirkan terminologi baru. Gambarannya, jika dulu pekerjaan produsen dan konsumen terpisah, maka sekarang konsumen bisa mengerjakan pekerjaan produsen. “Contoh dari pesan tiket pesawat saja, lalu saat boarding pass, hingga naik ke pesawat, beberapa pekerjaan sudah hilang. Sudah bisa ditangani oleh penumpang itu sendiri lewat teknologi,” kata Gogot.

Internet of Things, informasi yang dimiliki dari internet, itu bisa menggerakkan semua orang. Lalu adanya Big Data, dalam pendidikan, dimanfaatkan oleh Kementerian Pendidikan untuk  mendata setiap siswa diberi nomor induk siswa, lalu dimasukkan dalam data pokok pendidikan atau DAPODIK. Data ini nantinya diolah dan ditampilkan dalam bentuk laporan evaluasi bagi siswa tersebut. Ini adalah sebagian kecil proses pemanfaatan teknologi dalam pendidikan.

“Para guru harus melakukan perubahan. Pemberdayaan teknologi ini jika dipakai dalam kelas, sudah pasti menarik minat anak didik,” kata Gogot melanjutkan. Menurutnya, anak-anak masa kini secara garis besar butuh kebebasan mengekspresikan diri, yang sayangnya hal itu tidak didapat di sekolah. Ia menekankan, ini menjadi tugas guru yang siap mengintegrasikan teknologi dalam kelas.

Gogot menambahkan, dalam Teachers Competition Network di San Fransisco, pengujian guru dibagi dalam empat level; Literasi Teknoligi Informasi Komunikasi (TIK), Pendalaman Pengetahuan, Kreasi Pengetahuan, dan Berbagi Pengetahuan. Dari sekitar 2.000 lebih guru yang mengikuti, sekitar 40 persen guru lulus di tahap pertama yaitu Literasi TIK, dan pada tahap kedua sebanyak 12 persen mendalami pengetahuan ICT, sedangkan pada tahap ketiga dan keempat hanya sekitar 8 persen guru yang bisa melampaui tes tersebut.

Di Indonesia, pemerintah menetapkan lewat Peraturan Kementerian Nasional No. 22 Tahun 2007, bahwa guru diwajibkan untuk memanfaatkan teknologi untuk pengembangan diri, efisiensi, dan efektivitas pembelajaran. Dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru mampu menerapkan teknologi yang terintegrasi sistematik dan efektif.

Terakhir Gogot menyampaikan, sikap dan perilaku pengajaran guru dalam kelas yang tadinya bergaya instruksi, perlu diubah dengan cara konstruksi. “Guru perlu empowered. Agar pemahaman anak-anak didiknya terbangun, constructed. Sistem penilaian pun berubah, dari yang single path jadi multiple path,” pungkas Gogot.

Sejak tahun 2007 hingga dibentuknya kurikulum tahun 2013, guru sudah diarahkan memiliki kompetensi memanfaatkan teknologi untuk pengajaran. Minimal mampu membuat konten pembelajaran berbasis teknologi.

Guru juga harus memperhatikan prinsip mampu menerapkan teknologi yang terintegrasi, sistematis, dan efektif. Walaupun demikian, teknologi tetaplah alat. Agar siswa-siswa di era milenial mampu bekerja sama dan termotivasi, guru memiliki peran yang penting.

Untuk mengakomodir hal itu, Kemendikbud memiliki platform digital berupa Rumah Belajar. Di dalamnya terdapat konten audio visual yang dapat diunggah oleh para pakar pendidik.  Contohnya adalah simulasi pembelajaran yang dilakukan para pengajar. 

Di waktu yang sama, LDII melaunching Pondok Belajar Profesional Religius yang bisa diakses di Pondokbelajar.ldii.or.id. Platform digital ini mengakomodasi para pelaku dan pakar pendidikan dilingkungan LDII  seperti guru, mubaligh mubalighot, orang tua, pamong, yayasan, hingga ketua pesantren.

Gogot Suhartowo pun berharap, platform ini dapat bersinergi dengan platform Rumah Belajar Kemendikbud. Soal kerjasama, ia sangat terbuka  karena pada dasarnya, Rumah Belajar Kemendikbud pun berbasis APBN yang berasal dari rakyat, “Jika LDII mau mengadaptasi konten yang ada, kami punya 40.000 konten audio visual. Kami juga akan memberikan pelatihan pada guru-guru LDII,” ujarnya

Pembukaan Lokakarya Nasional 

Lokakarya Nasional yang digelar oleh DPP LDII dihelat di aula Kantor DPP LDII di Patal Senayan. Lokakarya yang diikuti sekitar 200 peserta perwakilan dari Aceh hingga Papua dan negara tetangga, dihadiri oleh Kedubes Singapura, perwakilan dari Kementerian Koperasi dan UKM RI, perwakilan tim Gapura Digital Google Indonesia, serta pakar ekonomi, pendidikan, dan praktisi digital lainnya.

Dalam pidato sambutannya, Ketua Panitia Pengarah (SC) sekaligus Ketua DPP LDII Prasetyo Sunaryo mengatakan, hanya sekitar delapan persen orang yang dapat menghasilkan smart society dari sebuah smartphone. Artinya, penggunaan smartphone dengan sebenar-benarnya sebagai sarana digital teknologi yang menghasilkan digital intelligence.

Sebuah struktur dari ormas, sejatinya dapat lebih cepat kontribusi dengan pemanfaatan digital teknologi. Hal ini adalah bentuk sederhana integrasi antara struktur dan kultur. Sebagai contoh, jika sebuah keputusan dulu ditentukan berdasarkan pengalaman, kali ini dalam era digital sistem keputusan didukung dengan basis data digital.

Pada pengembangannya, melahirkan sebuah Big Data sehingga implikasinya harus mampu membuat sistem manajemen data, infrastruktur data. “Paling sederhana contohnya adalah manajemen data, dengan pengembangan perangkat lunak (software development), pengembangan model, dan presentasi model data oleh para pegiat digital,” kata Prasetyo. “Wujudnya nanti Artificial Intelligence (AI), dengan sistem pengamanan data tinggi,” tambahya lagi.

Sekarang timbul lagi isu bagaimana teknologi struktur dan kultur dengan hambatan yang ada pada budaya masyarakat Indonesia. Misal, terlambat saat membuka pesan (unresponsive) hal ini terkait kebiasaan seseorang, maka artinya kultur atau budaya seseorang bisa menghambat atau memajukan teknologi. Inilah pentingnya pendidikan digital untuk setiap orang sekarang.

Menanggapi hal tersebut, Anil Kumar dari Kedubes Singapura juga menambahkan, “Apakah teknologi yang harus pintar atau orang-orangnya yang pintar, maka manusia-lah yang harus kick up dengan teknologi.” Digital literasi pada masyarakat umum atau di banyak negara tidak tergali dengan baik. Tidak menggunakan teknologi untuk pendidikan, sejak dini misalnya.

Sementara hal itu menjadi penting bagi kelangsungan pendidikan. Di Singapura ia mencontohkan, sejak dini anak (usia Taman Kanak-Kanak) diajari bahasa pemrograman atau coding, sehingga tidak takut menghadapi kemajuan digital. Anil menekankan, “Focus how to make people smart.”

Kecepatan perubahan yang sekarang jauh lebih cepat. Antara kecepatan dengan masalah yang muncul itu seolah terburu-buru. Tidak heran timbul disrupsi teknologi. “Manage the technology, jangan teknologi yang mengendalikan kita, ini adalah salah satu fokus penting,” kata Anil. Adanya disrupsi atau gangguan berimbas juga pada bidang ekonomi, bisnis, dan lainnya.

“Bisa jadi banyak pekerjaan akan hilang akibat disrupsi, misalnya ahli hukum tanpa bantuan teknologi, bisnis mereka tidak akan berjalan begitu saja jika hanya membantu penyelesaian masalah penjualan tanah atau rumah,” kata Anil.

Ia juga mengatakan, “Sedikit berbagi ilmu, penekanan di Singapura tidak terfokus pada melindungi sebuah pekerjaan, tapi melindungi pekerja. Karena pekerja bisa diberi ilmu untuk pekerjaan baru, malah bisa jadi kehidupan lebih baik daripada yang dahulu.”

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Optimized by Abdillah Irsyad El Nur | Official Website DPW LDII Jawa Timur | Official Website DPP LDII